Anthony Budiawan: Ekonomi Indonesia Butuh Reformasi Revolusioner, Jangan Terus Bergantung pada Pajak

Budi Puryanto Budi Puryanto Selasa, 22 September 2026 • 12:00:00 WIB
Anthony Budiawan: Ekonomi Indonesia Butuh Reformasi Revolusioner, Jangan Terus Bergantung pada Pajak
Prof Anthony Budiawan dalam Diskusi Progresif Sinkos, Kamis (17 September 2026)

JAKARTA — Ekonom Anthony Budiawan menilai persoalan ekonomi Indonesia tidak cukup diselesaikan melalui pergantian Menteri Keuangan. Menurutnya, pemerintah membutuhkan perubahan mendasar dalam strategi ekonomi, terutama dengan mengurangi ketergantungan negara terhadap pajak dan mengoptimalkan kekayaan sumber daya alam.

Anthony mengatakan, persoalan fiskal dan hubungan keuangan pusat-daerah yang muncul belakangan merupakan bagian dari persoalan yang lebih besar dalam tata kelola ekonomi nasional.

Ia menilai negara harus kembali serius menjalankan amanat Pasal 33 UUD 1945 dengan menjadikan sumber daya alam sebagai kekuatan ekonomi nasional.

“Yang harus dibuat revolusioner adalah kebijakan dari perindustrian,” ujar Anthony dalam sebuah diskusi yang membahas perubahan kebijakan ekonomi dan pergantian Menteri Keuangan.

Menurut Anthony, Indonesia memiliki sumber daya alam besar, tetapi belum mampu mengubah kekayaan tersebut menjadi kekuatan industri dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ia mencontohkan perkembangan Vietnam yang menurutnya berhasil meningkatkan ekspor dan pendapatan per kapita melalui reformasi ekonomi dan industrialisasi, meskipun negara tersebut tidak memiliki kekayaan sumber daya alam sebesar Indonesia.

“Vietnam tidak mempunyai sumber daya, tapi dia bisa melakukan itu,” katanya.

Anthony juga menyoroti gejala deindustrialisasi dini di Indonesia. Menurutnya, kontribusi sektor manufaktur yang dahulu mendekati 30 persen kini telah turun ke kisaran 19–20 persen.

Kondisi tersebut, kata dia, berisiko menekan produktivitas dan pendapatan per kapita Indonesia.

“Pendapatan per kapita akan turun, otomatis produktivitas akan turun,” ujarnya.

Karena itu, Anthony mendorong pemerintah melakukan reformasi industri secara serius. Menurut dia, Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan ekspor bahan mentah dan penerimaan negara dari pajak maupun PNBP.

Ia bahkan mengusulkan perubahan besar dalam pengelolaan sumber daya alam agar negara memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari kekayaan tersebut.

Anthony juga mengkritik ketergantungan pembiayaan negara terhadap pajak rakyat.

“Negara ini jangan hidup bergantung pada pajak rakyat,” tegasnya.

Menurut dia, sumber penerimaan negara harus diperkuat dari optimalisasi sumber daya nasional dan penciptaan nilai tambah melalui industrialisasi.

Dalam konteks pergantian Menteri Keuangan, Anthony juga menilai sejumlah kebijakan dan pernyataan Purbaya sebelumnya perlu dilihat secara kritis. Ia menyinggung antara lain kebijakan penempatan dana pemerintah di perbankan, penggunaan SILPA, serta sejumlah pernyataan terkait IMF, Bank Dunia, nilai tukar rupiah, MBG, dan Danantara.

Anthony menilai persoalan tersebut menunjukkan bahwa perdebatan mengenai Menteri Keuangan seharusnya tidak berhenti pada sosok personal, melainkan diarahkan pada desain kebijakan ekonomi nasional.

Ia juga mengingatkan bahwa sumber daya alam Indonesia tidak tak terbatas. Karena itu, kekayaan tersebut harus digunakan sebagai modal untuk membangun industri nasional sebelum cadangannya semakin berkurang.

Menurut Anthony, Indonesia harus bergerak lebih cepat melakukan transformasi ekonomi agar tidak terjebak dalam pertumbuhan yang rendah produktivitas.

“Harus bisa,” ujarnya, menegaskan perlunya perubahan kebijakan ekonomi secara mendasar.

Anthony berpandangan, perubahan tersebut tidak hanya diperlukan dalam pengelolaan sumber daya alam, tetapi juga dalam industrialisasi, hubungan pusat-daerah, serta desain kebijakan fiskal dan ekonomi nasional.

Saksikan video selengkapnya dibawah ini:

Follow www.sinkos.co

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

News Lainnya