Oleh: Choirul Aminuddin, Penulis SinKos
DUA tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran, rasanya, sudah cukup untuk diberikan penilaian, apakah pasangan ini layak dipertahankan atau tidak.
Saya sengaja menyampaikan pertanyaan tersebut menyusul gugatan Denny Indrayana dan sebelas rekannya ke Mahkamah Konstitusi terkait keabsahan ijazah Gibran Rakabuming Raka. Ia dipersoalkan saat mendaftarkan diri sebagai calon Wakil Presiden 2024-2029.
Menurut petitum yang disampaikan salah satu penggugat, Bambang Widjojanto, di depan hakim MK, Gibran tidak memenuhi syarat pendidikan. Oleh sebab itu, MK diminta membatalkan kemenangannya pada pemilihan umum 2024.
Proses peradilan di MK -ketika tulisan ini dibuat- masih berlangsung. Saya tidak berandai-andai, apakah gugatan tersebut dikabulkan seluruhnya atau sebagian oleh majelis hakim.
Namun, saya tertarik menyoroti jabatan yang diemban Gibran selama dua tahun. Apa yang telah diperbuat oleh anak haram konstitusi ini?
Pendukungnya mungkin akan menjawab, “Seabreg-abreg, Bang! Ente ke mana aje!”
Data yang saya peroleh menyebutkan kegiatan Gibran: meninjau lokasi bencana alam di Sumatera Utara, bikin kotak pos pengaduan ‘Lapor Mas Wapres’, dan mengawal program Makan Bergizi Gratis.
Bila diinventarisir, penyokong dan Kantor Sekretariat Wakil Presiden, barangkali, akan mengirimkan berlembar-lembar data mengenai apa saja yang diperbuat Gibran.
Memang, fakta kegiatan Gibran ke lapangan sulit dimungkiri. Misalnya, ia mendatangi sekolah di berbagai daerah, menengok Pusat Kesehatan Masyarakat, Sekolah Rakyat, mengawal MBG, dan program pemerintah lainnya.
Tetapi, perlu diingat, Wakil Presiden bukanlah petugas inspeksi. Ia diberikan kewenangan oleh negara melakukan koordinasi dan mengambil kebijakan, bukan pandai berkunjung ke daerah bencana.
Gibran,
Sadarkah, Anda dipilih mayoritas pemegang hak suara pada 2024. Apakah pemilihan tersebut fair atau tidak, kemenangan Anda halal atau haram, sulit diperdebatkan. Sebab, faktanya, Anda telah dilantik oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai Wakil Presiden. Seharusnya, Anda cakap menyelesaikan masalah negara.
Saya ingin menyampaikan pesan, jabatan yang Anda emban adalah amanah, bukan hadiah yang dinikmati tanpa memperhatikan nasib 280 juta rakyat Indonesia.
Dua tahun bukanlah waktu pendek. Saya rasa cukup bagi Anda berada di dalam Istana. Rakyat tidak menghitung jumlah kunjungan Anda, muncul di televisi, setajam apa kamera menyorot Anda.
Rakyat ingin merasakan, perubahan apa yang Anda lakukan selama berada di Istana. Bila tidak ada yang berubah, di luar Istana masih ada jalan lebar untuk Anda…!
Tanjung Priok, 23 September 2026